Washington (KABARIN) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Marco Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika Iran mencoba mengendalikan Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat vital.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa (5/5), Rubio menyebut Iran berupaya menciptakan kondisi baru yang dianggap “normal” di kawasan tersebut.
"Mereka berupaya menjadikan ini sebagai kenormalan baru," ujar Rubio.
Ia juga menegaskan bahwa tindakan seperti menyerang kapal komersial atau memasang ranjau di jalur laut tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Dalam keadaan apa pun, kita tidak boleh membiarkan mereka menormalkan fakta bahwa mereka dapat meledakkan kapal komersial dan memasang ranjau di perairan," lanjutnya.
Menurut Rubio, posisi AS jelas: jalur pelayaran harus tetap terbuka dan aman untuk semua pihak.
"Preferensi kami adalah agar selat ini dibuka sebagaimana seharusnya dibuka, kembali seperti semula," tambahnya, seraya menegaskan bahwa Iran "tidak boleh diizinkan untuk menentukan siapa yang menggunakan jalur perairan vital ini."
Ketegangan ini sendiri berakar dari eskalasi konflik sebelumnya. Pada 28 Februari, AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan senior dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset milik AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Tak hanya itu, Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Situasi ini membuat kawasan kembali berada dalam tensi tinggi, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas global, terutama di sektor energi dan perdagangan internasional.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026